Monday, 13 April 2009

love at the first sight

Cinta bisa muncul kapan saja, dimana saja, dalam bentuk apapun, dan kepada siapa saja. Betuuulll? Salah satunya muncul dalam bentuk "Love At The First Sight".

Tapi saya adalah tipe orang yang sangat amat tidak percaya pada "Love At The First Sight". Sebuah cinta yang tiba-tiba muncul ketika kamu melihat seseorang untuk pertama kalinya.

Kenapa saya gak percaya? Karena bagi saya, yang namanya cinta itu gak bisa langsung dateng begitu aja.

Bagi saya, cinta itu adalah sebuah proses. Berawal dari proses mengetahui keberadaan seseorang, mengenal orang tersebut, mendalami sifat masing-masing, dan seterusnya. Bagi saya, dari proses itulah cinta bisa muncul.

Tapi, nothing is impossible, right?

Walaupun saya gak percaya sama Love At The First Sight, tapi akhirnya saya mengalaminya juga. Emang sih jadinya terkesan bahwa saya ini munafik. Tapi saya bisa apa?

Kejadiannya sangat tiba-tiba. Bahkan sebelum saya menyadarinya, saya sudah bisa merasakan kalo saya jatuh cinta. *halah, apaan seeeh?*

Yah, minggu lalu saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan saya jatuh cinta pada.......






P O C O Y O ! ! ! !



Ahahahaha.. Pada serius amat sih nanggepinnya?!

Tapi saya beneran jatuh cinta pada pandangan pertama loh sama POCOYO, si bocah kecil lucu berbaju dan bertopi biru.
Jadi ceritanya kan beberapa minggu yang lalu akhirnya Papa mengabulkan permohonan saya selama bertahun-tahun untuk memasang TV Kabel *finally!*. Nah, waktu saya lagi pindah-pindah channel, saya pun melihat POCOYO di channel Playhouse Disney. Dan, saya langsung jatuh cinta. Soalnya he's so CUTE and ADORABLE. hahaha..

Pocoyo punya temen-temen yang gak kalah lucu. Ellie si gajah, Pato si bebek, Loula si anjing, dan Sleepy Bird si burung. Here they are..








Aren't they cute??

So, you tell me why shouldn't I love them? ;)

Friday, 13 March 2009

mom's taste

tadi sore.. (hmm, ngelirik jam: 03.04 am)

ralat

kemaren sore, saya bersama orangtua saya berbuka puasa di salah satu rumah makan Padang di Depok. Sebut saja namanya Simpang Raya. Well, technically sih mama dan papa yang buka puasa, saya mah nebeng pulang setelah menghabiskan waktu 3 jam ber-wifi ria di Margo. hehe

Mama saya ini terkenal di dua rumah makan Padang besar yang ada di Depok, yaitu Simpang Raya dan Sederhana. Simply karena mama adalah orang Padang dan langganan tetap di dua rumah makan tersebut jadi sudah dikenal baik oleh pegawai-pegawainya. Yah, papa, saya, dan adik saya sih juga kecipratan tenar di sana. Lumayan lah, pelayan-pelayan di dua rumah makan tersebut sudah tau saya suka minum apa tanpa bertanya lagi kepada saya. haha

Dua rumah makan yang beda tentu saja rasanya juga beda walaupun menu yang ditawarkan sama: masakan Padang. Setiap orang pasti bisa merasakannya, apalagi orang Padang. Saya juga bisa walaupun kemampuan saya merasakan itu hanya sebatas bahwa masakan yang ini lebih pedes atau santannya lebih kental atau bumbunya kurang meresap. Yah, pokoknya hal-hal yang bisa dirasain sama lidah lah.

Tapi mama saya beda. Mama bisa ngerasain hal-hal yang lebih mendalam. Gimana yah ngejelasinnya? Bingung. Pake contoh aja deh.

Jadi gini, mama pernah ngejelasin bedanya Gulai Kepala Ikan Simpang Raya dan Sederhana kepada saya. Kata mama, salah satunya itu rasa lengkuas dan kunyit di kuah santannya itu kurang berbaur dengan bumbu-bumbu lainnya.

See? Ngerti kan maksud saya? Sampe bumbu-bumbunya aja Mama saya itu bisa ngebedain. Saya aja sampe bingung.

Nah, trus kemaren itu abis buka puasa, Mama ngobrol-ngobrol sama salah satu pelayannya. Kira-kira begini cuplikannya:

Mama: kokinya ganti yah?

Pelayan: iya bu, kenapa?

Mama: rasa makanannya semua jadi beda

Pelayan: ohya? baru ibu loh yang bilang kayak gitu

Mama: iya, kuah gulainya aja kayak kebanyakan kunyitnya, trus rendangnya
terlalu manis, bumbu ayam bakarnya kurang meresap, bla bla bla

Lalu mama menjelaskan semua perbedaan rasa dari makanan yang sempat mampir di lidahnya termasuk yang dimakan saya dan papa, meliputi rendang, gulai kepala ikan, sayur daun singkong, ayam bakar, ayam gulai, telor balado, dan yang lainnya saya lupa. hehe.. Sementara saya bengong-bengong takjub mendengarkan karena lidah saya tidak merasakan sesuatu yang beda dari makanan-makanan yang saya makan. Si pelayan juga terbengong-bengong mendengarkan penjelasan Mama.

Kepekaan lidah Mama tidak hanya sebatas merasakan Masakan Padang. Tetapi makanan-makanan lainnya. Dari semua outlet Es Teler 77 yang pernah dikunjungi (termasuk yang di Singapura), Mama paling suka makan di Es Teler 77 Pondok Indah Mall. Katanya di PIM yang masakannya paling oke. Sementara saya, papa, dan adik saya berpendapat 'kayaknya rasanya sama aja deh, kan sama-sama Es Teler 77'.

Kalo ke Bandung, Mama ngotot makan di Solaria Rest Area km 57. Alesannya, I Fu Mi di sana paling enak dibandingkan di semua Solaria seantero Indonesia. Waktu itu pernah saya ajak makan di Solaria Rest Area km 19 karena saya ngidam Starbucks, ditolak mentah-mentah sama Mama. Katanya Solaria di sana paling gak enak semua masakannya. Nah loh? Padahal bagi saya sama ajah.

Yah, pokoknya Mama saya itu ajaib banget deh kalo dihubung-hubungi sama masakan. Kayaknya taste Mama pantes disejajarin sama taste-nya Pak Bondan Winarno. hihi

Sunday, 8 March 2009

if only this song released a year before

Peluk - Dewi Lestari feat Aqi "Alexa"

Menahun kutunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku

Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu, rasa sakitku

Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kaulah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata

Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau ku lepas slamanya

Tak juga ku paksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karna kau lah satu yang kusayang
Dan tak layak kau didera

Dan kini
Kuharap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku




*ah, aku mengerti sekarang..*

Saturday, 28 February 2009

kehebohan Ponari

Yah, seperti yang udah semua orang tau, beberapa minggu belakangan ini berita tentang dukun cilik Ponari dan Batu Petirnya selalu menghiasi media Indonesia. Mulai dari berita, trus acara-acara yang mengupas tuntas rahasia Ponari itu, sampe INFOTAINMENT pun menayangkan kehebohan Ponari itu. I have no idea kenapa infotainment yang biasanya menampilkan gosip-gosip gak penting, merasa segitu perlunya untuk menayangkan berita tentang Ponari.

Ponari, anak kecil dari sebuah desa kecil di Jombang, Jawa Timur, tiba-tiba aja menjadi terkenal di seantero Nusantara ini. Beritanya aja sama hebohnya sama berita kedatangan Hillary Clinton ke Jakarta. haha *ngaco*

Si anak kecil ini tiba-tiba jadi terkenal dan didatengin sama ribuan orang setiap harinya karena ia menemukan sebuah batu. Batu itu bentuknya biasa aja. Tapi yang bikin batu itu jadi luar biasa adalah karena menurut orang-orang yang percaya, batu itu merupakan batu pemberian dari Dewa Petir atau sebangsanya. Karena pemberian Dewa, maka orang-orang pun percaya batu itu ajaib dan mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan segala penyakit yang ada. Caranya: batu dicelupkan ke air, lalu air tersebut diminum. Dan taraaaa... Penyakit apapun yang anda derita akan sembuh seketika. Ajaib kan?


Well, sebagai orang yang dibesarkan di kota besar dengan pandangan modern namun tetap mengikuti norma-norma yang ada (halah, ribet!), saya susah sekali untuk percaya pada hal-hal seperti itu. Hal-hal yang disangkut-pautkan dengan kepercayaan-kepercayaan mistis dan tidak masuk akal menurut saya.

Aneh aja untuk percaya bahwa air yang dicelupkan oleh sebuah batu bisa menyembuhkan segala penyakit. Hal itu sangat tidak cocok dengan segala pengetahuan yang saya tau. Pokoknya, it doesn't make sense at all.

Saya gak tau apa yang ada di pikiran orang-orang yang menjadi pasien Ponari itu. Apakah mereka bener-bener percaya sama kekuatan batu itu? Apakah memang mereka dibesarkan dengan kepercayaan mistis yang kuat? Apakah pengetahuan mereka tentang medis terbatas? Atau hal-hal lain yang mereka pikirkan.


Terlepas dari ketidakpercayaan saya tentang hal-hal itu, saya mulai berpikir mungkin ini bukan benar-benar tentang hal-hal mistis yang ada. Mungkin ini bukan tentang orang-orang yang tidak mengerti tentang hal-hal yang ilmiah. Mungkin ini semua tentang keputus asaan orang-orang tersebut untuk mendapatkan pengobatan yang layak. Mungkin mereka tidak mampu menjangkau pengobatan medis yang sesungguhnya untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang mereka derita karena keterbatasan biaya.

Mungkin, dan mungkin.

Masih banyak kemungkinan lainnya.

Mungkin ini akan jadi PR untuk pemerintah tentang pengobatan medis yang layak namun tidak hanya bisa dijangkau oleh kalangan atas.

Mungkin